Minggu, 25 September 2016
Introduction
Hi let me introduce my self. My name's Rahma Talifta Rachdian, you can call me Rahma or Talif. I'm 19 y.o. I'm studying in Ibn Khaldun Bogor University, English Education Department. I've often made a blog before, but I always forgot the password. So, this is my new blog. I hope you guys enjoy my posts in here. WELCOME READERS!
Sejuta Cinta untuk Ayah dan Ibu
Pada
suatu siang yang cerah, ada seorang anak perempuan yang sedang
berbincang-bincang dengan ayahnya melalui telepon genggam dengan di dampingi
ibunya. Keduanya begitu asyik dan larut dalam pembicaraan mereka. Sampai tiba-tiba
anak tersebut meminta di belikan laptop untuk keperluan sekolah kepada ayahnya. “ayah syaki kepingin beli laptop buat
keperluan sekolah” “iya, emangnya temen-temen ade pada pake
laptop apa?” jawab ayahnya
“mmm.. kebanyakan sih pada pake acer yah, tapi ada juga yang pake axioo”
jelas si anak “nanti ya ayah belikan
yang bagus mrek Toshiba” jawab si ayah “asyyyiiikkk”
jawab si anak dengan gembiranya” tapii,
ayah nabung dulu ya de” jawab si ayah sembari tersenyum di balik telepon “iya ayah, nggak apa-apa ko, yang penting
entar di beliin” jawab si anak “yaudah,
entar ayah telepon lagi ya, ayah mau kerja dulu, assalamualaikum”. Pembicaraan
pun selesai, sang ibu hanya tersenyum senang melihat tingkah anaknya yang sudah
mulai beranjak dewasa.
Keesokan harinya tiba-tiba ibu syaki
mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah
sakit, karna hipertensi. betapa kagetnya syaki mendengar kabar tersebut, dia
benar-benar tak percaya, namun kenyataannya kabar itu memanglah benar, dia
memeluk ibunya dan menangis di pelukannya. Di setiap shalatnya syaki selalu
mendoakan agar ayahnya lekas pulih, ingin sekali dia menjenguk ayah di rumah
sakit, namun tidak bisa karna di larang oleh istri muda ayahnya. Dia hanya bisa
berdoa dan berdoa untuk kesehatan ayahnya.
Pada hari kamis pagi-pagi sekali
syaki sudah siap-siap untuk berangkat sekolah dan akan menghadapi ujian lisan terakhir,
namun ketika syaki meminta bekal pada ibunya, ibunya justru melarang syaki
untuk berangkat sekolah alasannya karna akan pergi ke bogor “tapi kan bu hari ini ujian lisan terakhir,
syaki gak mau ujiannya di tunda-tunda” jelas dia “syaki, pokoknya hari ini kita ke bogor, kamu harus ikut syaki!”
bentak ibunya “emang kenapa sih kita
harus ke bogor, emang gak bisa lain waktu bu?” Tanya syaki “masa ibu harus kasih tau sekarang? Udah
ikut aja!” jelas ibunya “emang
ngapain sih bu?” Tanya syaki dengan kesal “ayah meninggal syaki, kita harus ke bogor!” jawab ibu sambari
menangis. Seketika itu pula mutiara-mutiara bening berjatuhan tak terbendung dari
mata syaki, dia menangis pilu merasa kehilangan ayah yang begitu dia sayangi.
Saat itu pula syaki, dan ibunya berangkat ke bogor.
Setelah sampai, jasad ayahnya sudah
selesai dimandikan dan di kafani. Ketika syaki melihat jasad ayahnya, dia hanya
bisa terdiam di dalam keramaian orang yang menangis, dia benar-benar terpukul
dengan kepergian ayahnya, dia menyesal tidak ada di samping ayahnya ketika
saat-saat terakhir, dia hanya bisa menyesal. Setelah jasad ayah nya di kubur,
syaki bertanya-tanya dalam benaknya “ya
allah, nanti didalam sana ayah sama siapa? Apa ada yang nemenin? Syaki kepingin
nemenin ayah, ya allah, syaki menyesal gak nemenin ayah pas sakit, ya allah
syaki belum siap di tinggal ayah, syaki masih butuh pelukan ayah” dia hanya
bisa terpaku lemas melihat makam ayahnya.
Semenjak ditinggal ayahnya, syaki
sering menyendiri di kamarnya dan menangis. Prestasinya pun menurun, setiap
kali ibunya bertanya kenapa prestasinya turun, syaki hanya bisa menangis. Ibu
begitu sedih melihat syaki yang begitu rapuh karna kehilangan ayahnya. “syaki, ibu tau syaki sedih di tinggal
ayah, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan nak.” Jelas ibu “syaki Cuma belum siap di tinggal ayah, bu.
Syaki kangen ayah” tangisan syaki pun meledak, ibunya memeluk erat tuuh
syaki, sambil membisikan kata-kata yang begitu menyejukkan hati syaki. “syaki walaupun syaki anak perempuan syaki
harus kuat, ini udah jadi takdir dari allah, kita cuman bisa berdoa untuk ayah,
ayah pasti sedih ngeliat syaki kaya gini, nak. Sekarang syaki harus bangkit,
syaki gak boleh kalah sama rasa sedih syaki” jelas ibu “iya bu, syaki ngerti” jawab syaki sembari tersenyum.
Hari demi hari syaki mulai berjuang
melawan rasa sedihnya, perubahan pun
mulai Nampak, dia tak semurung kemarin, dia sudah bisa tertawa seperti
biasa, walaupun perubahannya tidak begitu besar. Tahun berganti tahun syaki pun
lulus dari SMP dengan nilai yang lumayan bagus. Saat kelulusan syaki di temani
ibu dan kakanya, dia bahagia bisa lulus dengan hasil jerih payahnya sendiri, di
tengah kebahagiaanya dia bergumam dalam hatinya “ayah, sekarang syaki udah SMA, syaki udah lulus yah, syaki sekarang
udah dewasa, ayah seneng kan? Ayah syaki kangen, syaki sedih ayah gak ada
disini, tapi syaki harap suatu saat nanti syaki bisa ketemu ayah lagi”.
Syaki melanjutkan sekolahnya ke
SMA 1, dia menemukan teman-teman baru yang mempunyai karakter unik, betapa
bahagianya dia bisa melanjutkan sekolahnya, dia bersyukur karna masih bisa
melanjutkan sekolah dan dia pun bertekad akan membuktikan pada keluarganya
bahwa dia bisa jadi yang terbaik.
Syaki terus berjuang demi
mendapatkan peringkat di kelasnya, perubahan demi perubahan pun mulai terlihat
awal semester 1 dia masuk peringkat 10 besar, dan pada semester 2 dia mendapat
rank 7. Betapa bahagianya dia ketika tau bahwa perjuangannya membuahkan hasil,
tapi perjuangannya masih panjang dia harus terus berjuang 2 tahun lagi. Di
sela-sela perjuangannya dia tak pernah lupa untuk beribadah, setiap malam hari
dia bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, kadang jika tidak ada halangan
dia akan berpuasa sunnah senin kamis. Ternyata di semester 3 dan semester 4 dia
masuk 10 besar lagi. “subhanallah,
walhamdulillahh..” syaki mengucap syukur. Saat tahajjud syaki berdoa sambil
menangis tersedu-sedu “ya allah terimakasih telah mempermudah
perjuanganku, hamba sangat bersyukur padamu ya allah. Ya allah permudah lagi
perjuangan ku selanjutnya. Berikan hamba kesempatan untuk terus membuat ibu dan
ayah bangga padaku, aamiin”.
Hari berganti hari tak terasa
syaki pun akan menghadapi ujian nasional. Hal yang paling ditakutkan oleh para
pelajar, karna ujian nasional menentukan mereka lulus atau tidak lulus. Saat
sedang menonton di ruang tv, syaki berbicara pada ibunya “ibu syaki gugup untuk menghadapi ujian nasional, syaki takut hehe” jelas
syaki sambil sedikit tertawa “ah kamu
ini syaki, sudah tidak usah gugup atau takut, kan ada allah, percaya deh allah
pasti bantu kamu sayang, asal kamu terus berusaha dan terus berdoa” jawab
ibu sambil mengelus kepala syaki “hmmm..
iya siap ibu syaki siap menghadapi ujian nasioal, ujian nasional kan cuman
mengerjakan soal-soal seperti saat ulangan, kenapa mesti taku ya gak bu ?
ahaha” jawab syaki sambil tertawa. Tawa mereka memecah sunyi di ruangan
itu.
Ujian nasional pun tinggal
menghitung hari, syaki dan temannya semakin giat belajar, tak hanya itu mereka
semakin mendekatkan diri pada sang memberi pertolongan. Saat istirahat syaki
dan teman-temannya sedang berbincang-bincang “aduh sumpah deh aku deg-degan banget bentar lagi UN, bisa-bisa aku
udah pingsan duluan sebelum UN haduuhh “ jelas temannya “ah suka lebay gitu ! rilex aja lagi, toh
UN itukan kita ngerjain soal-soal sama seperti halnya saat kita ulangan, ya
anggap aja kita lagi ulangan biasa, cuman ajangnya beda lagi gitu” jawab
syaki “ah iya juga sih tapi kekeuh aja takut tetep takut hehehe” jawab
temannya. Dia hanya tersenyum dan hati kecilnya bergumam “ya ampun gak kerasa aku udah mau lulus, kira-kira entar suasana kuliah
gimana ya? Aku pasti kangen banget sama masa-masa SMA”. “dih.. malah bengong
gitu kamu mah, udah ah nyokk kita ke kelas lagi, berkutat dengan para buku” tegas
temannya “ayoooo” jawab syaki dengan
bersemangat.
Tak terasa akhirnya ujian
nasionalpun tiba, syaki sudah berusaha semaksimal mungkin, bagaimana hasilnya
dia hanya bisa pasrah, tapi dia yakin allah melihat perjuangannya selama ini
jadi allah tidak mungkin mengecewakannya. Saat selesai ujian syaki merasa lega,
karna dia hanya perlu tinggal menunggu hasilnya. Dia sangat berharap hasilnya
memuaskan. Sepulang sekolah dia mendekap ibunya yang sedange masak di dapur. “ehhhh sudah pulang nak? Gimana ujiannya?”
Tanya ibu “sudah bu, Alhamdulillah lancar, semoga hasilnya memuaskan ya bu”
jawab dia “ Alhamdulillah kalau begitu,
iya aamiin ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu na” jawab ibu. “ayah, lihat anak kita sudah dewasa, sudah
mau kuliah, apa ayah senang? Ibu sangat senang yah melihat syaki yang begitu
dewasa. Meskipun ayah sekarang sudah tidak ada disini, tapi ibu tau kalo ayah
bangga mempunyai anak seperti syaki” gumam ibu dalam hati.
Hasil UN pun keluar, betapa
bahagianya syaki ketika tau dia lulus dan nilainya menjadi yang terbaik kedua
di antara semua murid. Dan yang membuat dia benar-benar bangga adalah dia
mendapatkan beasiswa kuliah di London, kota yang selama ini ingin dia kunjungi.
“ ya allah terimakasih, maha besar allah
dengan segala firmannya, engkau mengabulkan doa ku” gumam syaki dalam hati.
Setelah mendapat kabar bahagia itu, dia bergegas untuk pulang, dia tidak sabar
ingin elihat ekspresi sang ibu ketika mengetahui kabar bahagia ini. Sesampainya
di rumah dia belari dan memeluk ibunya sambil menciumi pipi ibunya. Ibunya
sangat terbingung-bingung mlihat tingkah anaknya “syaki kamu kenapa? Datang-datang ko langsung meluk ibu sambil nyium
pipi ibu? Tanya sang ibu “ibu tau
gak? Syaki LULUS buuuu!!!! Dan ibu tau nilai syaki terbaik kedua di antara
semua murid, satu lagi yang ibu perlu tahu, syaki dapet beasiswa kuliah di
London bu, di London, kerenkan bu!!!!” jawab syaki dengan hebohnya. “subhanallah,walhamdulillah, benarkah itu?
Ya allah ibu bangga sma kamu nak. Perjuanganmu tidak sia-sia sayang. Teruslah
berprestasi ya anakku” jawab ibu sambil menangis tersedu-sedu. Suasana
begitu haru saat itu. Betapa tidak perjuangan syaki untuk membanggakan ibu dan
ayahnya tidaklah sia-sia.
Hari kelulusanpun tiba, suasa
harupun tak tertahankan, tangis bahagia dan sedih karna berpisahpun pecah. Air
mata tak terbendung lagi, saling berpelukan satu sama lain saling meneguhkan,
moment-moment yang begitu indah dalam hidup syaki.semua bersorak atas kelulusan
masing-masing. Di dalam keramaian syaki terdiam dan hatinya berbicara “ ayah syaki lulus dengan nilai yang
memuaskan ini semua syaki persembahkan untuk ayah dan ibu, ayah senang kan?
Ayah, membayangkan wajahmu, ada begitu banyak gurat rindu dalam hatiku jauh
didasarnya. Namun, ada secubit rasa sakit yang tersisa disana, mengingat dulu
kita pernah sulit bertemu, hamper syaki lupa rasanya di peluk seorang ayah,
namun itu semua tak menghilangkan rasa sayang syaki ke ayah. Semoga suatu hari
nanti kita bisa ketemu lagi ya ayah. Doakan syaki agar syaki bisa
memberagkatkan ibu ke mekkah.” tak terasa air mata pun jatuh, syaki segera
menyekanya dan memeluk ibunya dan berkata “terimakasih
ibu. Ibu telah mendampingi syaki sampai sejauh ini. Terimakasih atas
dukungannya bu, syaki janji syaki akan terus membanggakan ibu dan ayah,meskipun
ayah gak ada disini syaki tau pasti ayah bangga melihat syaki sukses .”
Created : Rahma Talifta Rachdian
pada
suatu masa pernah ku berbisik lirih,
sepenuh
pasrah berharap kepada allah
agar
dia berikan padaku ayah yang hebat
ayah
yang sayang dan penyabar
maka,
allah berikan kepadaku ayah seperti bapak-ku
yang
mendidikku agar menjadi anak yang sabar
dengan
segala kesuliatan yang terbentang
yang
mengajariku bahwa hebat berarti berjuang
yang
membuka mataku bahwa…
sayang
itu tak berarti selalu menurutkan setiap keinginan
(*dikutip dari novel semiliar
cinta untuk ayah*)
Langganan:
Postingan (Atom)